Laman

Selasa, 12 April 2016

Mencari Teladan dari Master of Love and Mercy: CHENG YEN (1)



”Meraih hak-hak kita; ini bukanlah berkah. Jika seseorang tidak bekerja dengan tekun untuk memperbaiki pikirannya selama kehidupan ini, dalam kehidupan berikutnya dia tidak akan dapat lahir dengan kecerdasan yang lebih besar—kita dapat memperkirakan masa depan kita dengan memerhatikan kebiasaan kita saat ini.”


“Namun seseorang yang terlahir dengan kecerdasan yang hebat dalam kehidupan ini, pasti dalam kehidupan sebelumnya dia telah bekerja keras untuk mengembangkan hal ini—kita dapat menelusuri masa lampau kita dengan memeriksa status masa kini kita.”
“Di samping apa yang kita bawa sejak lahir, kita juga harus meneruskan untuk menyerap dan mencerna—-untuk belajar.

Seorang anak dapat terlahir sebagai pembelajar yang cepat, namun bahkan seorang genius harus dididik. Kita telah mendengar bahwa seorang anak berusia tujuh tahun dapat pergi Perguruan Tinggi, namun kita tak pernah mendengar bahwa seorang anak dilahirkan dengan pengetahuan seorang lulusan perguruan tinggi.”

”Karma adalah hasil dari kahendak moral dan amoral. Karma menciptakan perpindahan yang baik maupun buruk, berdasarkan pada tindakan kita. Dan karma adalah benih moral dalam setiap makhluk yang bertahan melewati kematian hingga kelahiran kembali yang berikutnya atau mengalami metamorphosis.”

”Ketika kita dilahirkan dengan hak yang tak terbatas untuk menggunakan pikiran kita sebagai hasil dari karma baik, kita perlu berjuang untuk memperoleh kebijaksanaan bukannya kepandaian; keduanya sangat berbeda.”

”Kepandaian hanyalah sebuah fungsi. Kebijaksanaan adalah sifat sejati dalam diri kita—sifat Buddha."

”Seseorang yang pintar belum tentu bijaksana. Namun seseorang yang bijaksana, dia selalu pintar.”
”Kepintaran tidak selalu baik. Hal ini bisa digunakan oleh seseorang untuk tujuan yang salah. Pada saatnya, hal ini dapat menjadi cara untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Bahkan kelicikan adalah tanda-tanda kepintaran."

”Seseorang yang pintar dapat menciptakan masalah di rumah dan di masyarakat—pada saat yang sama juga mengembangkan karma buruk bagi dirinya sendiri dalam kehidupan berikutnya.”
”Kebijaksanaan adalah dorongan internal yang baik dan berbudi luhur. Hal ini menunjukkan kecakapan seseorang untuk membedakan kebaikan dari kejahatan. Dan hal ini dapat dilihat dalam kemampuannya untuk memisahkan yang benar dari yang salah.”

"Orang bijaksana berjuang untuk melayani yang lain, untuk memberi manfaat bagi masyarakat, dan berkontribusi bagi umat manusia—sepanjang hidupnya saat ini, dia mengembangkan karma baik untuk dirinya sendiri di kehidupan yang akan datang.”

"Anda bertanya tentang kewajiban mereka yang terlahir dengan hak untuk menggunakan pikiran mereka hingga mencapai kapasitas terbesar.”

“Orang pintar seharusnya mengembangkan kepandaiannya dan mengubahnya menjadi kebijaksanaan. Dia seharusnya menggunakan pikirannya demi kebaikan umat manusia, bukan hanya dirinya sendiri. Dia harus mencoba yang terbaik untuk mencabut keserakahan, kebencian, dan hasratnya yang kuat, juga melakukan perbuatan-perbuatan yang bajik’, berbelas kasih, Penuh welas aSih, dan dengan Cinta tanpa pamrih. Dengan melakukan hal—hal ini, dalam kehidupan berikutnya dia mungkin menjadi orang bijaksana bukan hanya pintar.”

“Begitu menjadi bijaksana, seseorang biasanya mengetahui bahwa dia seharusnya sangat menghargai kebijaksanaan yang telah diperolehnya. Dia mampu untuk melindungi hasil usahanya dalam kehidupan sebelumnya, dan memastikan bahwa kebijaksanaannya tidak memburuk. Dia akan terus belajar dan mengembangkan dirinya, sehingga setelah kematian fisik, jika tidak mencapai Nirwana, dia akan terlahir kembali dengan buah karma yang baik.”

”Dan Anda bertanya apakah orang yang biasa-biasa saja dapat duduk bersandar dan bersantai bukannya berjuang untuk menaklukkan kelemahannya."

"Ketika karma sudah buruk, kita tidak boleh membuatnya menjadi lebih buruk."
”Ketika seorang petani diberi benih dari hasil panen yang buruk, dia harus bekerja luar biasa berat. "
”Dia harus memupuk, menyirami, menyiangi, dan bekerja keras untuk melindungi tunas dari cuaca buruk dan membiarkanya menerima cahaya matahari yang cukup.
Dengan ini seorang petani dapat memetik hasil panen lebih baik daripada potensi asal benih.“
 
“ Dan ketika membawa benih masa panen saat ini untuk masa tanam berikutnya, dia akan memulai dengan benih yang sehat dan kuat, Karma yang baik. Dengan cara yang sama, jumlah yang patut dipertimbangkan dari usaha harus digunakan untuk memastikan pikiran yang berkembang pesat.”


“Ketika tangan seseorang dipenuhi dengan bungkusan pada hari ini, dia tidak akan memiliki tangan cadangan untuk membawa sebuah bungkusan dari kemarin”

Master Cheng Yen

”Untuk maju seseorang harus tidak menengok ke belakang.”

“Master,” aku bertanya, ”Bagaimana bisa kita tidak menengok ke belakang? Sesekali panggilan masa lalu sangat kuat sehingga kita tidak dapat menghindar untuk mendengarkan suaranya  bahkan ketika suara itu dipenuhi dengan kemarahan, penyesalan, dan duka cita.”
Suara Master tegas dan kuat, ”Untuk melupakan masa lalu, kita harus melihat masa kini.”
”Ketika kita berkonsentrasi pada kehidupan saat ini, kita tidak akan mampu untuk membagi perhatian ke masa lalu.”

”Sebagai contoh, ketika tangan seseorang dipenuhi dengan bungkusan pada hari ini, dia tidak akan memiliki tangan cadangan untuk membawa sebuah bungkusan dari kemarin.”
”Untuk maju, seseorang harus mengambil langkah. Ketika kaki kanannya maju, kaki kirinya harus meninggalkan tanah bekas pijakannya dan mengikuti langkah kaki kanan.”
Seseorang tidak akan pergi ke mana-mana jika kaki kanannya melangkah maju, namun kaki kirinva menempel di tempat yang sama.”


 “Seseorang juga tidak bisa maju ke masa depan jika hanya separuh dirinya memulai kehidupan baru sementara separuh yang lain terus tinggal dalam satu kehidupan sudah lama berlalu."
”Seseorang seharusnya tidak hidup pada hari kemarin, tidak juga pada hari esok. Satu-satunya kenyataan adalah hari ini dan momen saat ini. Berikan perhatian penuh Anda kepadanya, dan masa lalu akan lenyap, serta masa depan akan tiba pada saatnya untuk menjadi masa kini."[1]


Pustaka:
[1]        Y. Ching, “Bab Sepuluh,” in Master Chen Yen: Teladan Cinta Kasih, Handaka Vijjananda, Ed. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2009, pp. 166–171.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar