“Namun seseorang yang terlahir dengan kecerdasan yang hebat
dalam kehidupan ini, pasti dalam kehidupan sebelumnya dia telah bekerja keras untuk
mengembangkan hal ini—kita dapat menelusuri masa lampau kita dengan memeriksa
status masa kini kita.”
“Di samping apa yang kita bawa sejak lahir, kita juga harus
meneruskan untuk menyerap dan mencerna—-untuk belajar.
Seorang anak dapat terlahir sebagai pembelajar yang cepat, namun
bahkan seorang genius harus dididik. Kita telah mendengar bahwa seorang anak berusia
tujuh tahun dapat pergi Perguruan Tinggi, namun kita tak pernah mendengar bahwa
seorang anak dilahirkan dengan pengetahuan seorang lulusan perguruan tinggi.”
”Karma adalah hasil dari kahendak moral dan amoral. Karma
menciptakan perpindahan yang baik maupun buruk, berdasarkan pada tindakan kita.
Dan karma adalah benih moral dalam setiap makhluk yang bertahan melewati
kematian hingga kelahiran kembali yang berikutnya atau mengalami
metamorphosis.”
”Ketika kita dilahirkan dengan hak yang tak terbatas untuk menggunakan
pikiran kita sebagai hasil dari karma baik, kita perlu berjuang untuk
memperoleh kebijaksanaan bukannya kepandaian; keduanya sangat berbeda.”
”Kepandaian hanyalah sebuah fungsi. Kebijaksanaan adalah sifat
sejati dalam diri kita—sifat Buddha."
”Seseorang yang pintar belum tentu bijaksana. Namun seseorang
yang bijaksana, dia selalu pintar.”
”Kepintaran tidak selalu baik. Hal ini bisa digunakan oleh seseorang
untuk tujuan yang salah. Pada saatnya, hal ini dapat menjadi cara untuk
memperoleh keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Bahkan kelicikan
adalah tanda-tanda kepintaran."
”Seseorang yang pintar dapat menciptakan masalah di rumah
dan di masyarakat—pada saat yang sama juga mengembangkan karma buruk bagi
dirinya sendiri dalam kehidupan berikutnya.”
”Kebijaksanaan adalah dorongan internal yang baik dan berbudi
luhur. Hal ini menunjukkan kecakapan seseorang untuk membedakan kebaikan dari
kejahatan. Dan hal ini dapat dilihat dalam kemampuannya untuk memisahkan yang
benar dari yang salah.”
"Orang bijaksana berjuang untuk melayani yang lain,
untuk memberi manfaat bagi masyarakat, dan berkontribusi bagi umat manusia—sepanjang
hidupnya saat ini, dia mengembangkan karma baik untuk dirinya sendiri di
kehidupan yang akan datang.”
"Anda bertanya tentang kewajiban mereka yang terlahir dengan
hak untuk menggunakan pikiran mereka hingga mencapai kapasitas terbesar.”
“Orang pintar seharusnya mengembangkan kepandaiannya dan
mengubahnya menjadi kebijaksanaan. Dia seharusnya menggunakan pikirannya demi
kebaikan umat manusia, bukan hanya dirinya sendiri. Dia harus mencoba yang
terbaik untuk mencabut keserakahan, kebencian, dan hasratnya yang kuat, juga melakukan
perbuatan-perbuatan yang bajik’, berbelas kasih, Penuh welas aSih, dan dengan
Cinta tanpa pamrih. Dengan melakukan hal—hal ini, dalam kehidupan berikutnya
dia mungkin menjadi orang bijaksana bukan hanya pintar.”
“Begitu menjadi bijaksana, seseorang biasanya mengetahui bahwa
dia seharusnya sangat menghargai kebijaksanaan yang telah diperolehnya. Dia
mampu untuk melindungi hasil usahanya dalam kehidupan sebelumnya, dan
memastikan bahwa kebijaksanaannya tidak memburuk. Dia akan terus belajar dan
mengembangkan dirinya, sehingga setelah kematian fisik, jika tidak mencapai
Nirwana, dia akan terlahir kembali dengan buah karma yang baik.”
”Dan Anda bertanya apakah orang yang biasa-biasa saja dapat
duduk bersandar dan bersantai bukannya berjuang untuk menaklukkan
kelemahannya."
"Ketika karma sudah buruk, kita tidak boleh membuatnya menjadi
lebih buruk."
”Ketika seorang petani diberi benih dari hasil panen yang buruk,
dia harus bekerja luar biasa berat. "
”Dia harus memupuk, menyirami, menyiangi, dan bekerja keras
untuk melindungi tunas dari cuaca buruk dan membiarkanya menerima cahaya
matahari yang cukup.
Dengan ini seorang petani dapat memetik hasil panen lebih
baik daripada potensi asal benih.“
“ Dan ketika membawa benih masa panen saat ini untuk masa
tanam berikutnya, dia akan memulai dengan benih yang sehat dan kuat, Karma yang
baik. Dengan cara yang sama, jumlah yang patut dipertimbangkan dari usaha harus
digunakan untuk memastikan pikiran yang berkembang pesat.”
“Ketika tangan seseorang dipenuhi dengan bungkusan pada hari ini, dia tidak akan memiliki tangan cadangan untuk membawa sebuah bungkusan dari kemarin”
Master Cheng Yen
”Untuk maju seseorang harus tidak menengok ke belakang.”
“Master,” aku bertanya, ”Bagaimana bisa kita tidak menengok
ke belakang? Sesekali panggilan masa lalu sangat kuat sehingga kita tidak dapat
menghindar untuk mendengarkan suaranya
bahkan ketika suara itu dipenuhi dengan kemarahan, penyesalan, dan duka
cita.”
Suara Master tegas dan kuat, ”Untuk melupakan masa lalu, kita
harus melihat masa kini.”
”Ketika kita berkonsentrasi pada kehidupan saat ini, kita tidak
akan mampu untuk membagi perhatian ke masa lalu.”
”Sebagai contoh, ketika tangan seseorang dipenuhi dengan bungkusan
pada hari ini, dia tidak akan memiliki tangan cadangan untuk membawa sebuah
bungkusan dari kemarin.”
”Untuk maju, seseorang harus mengambil langkah. Ketika kaki
kanannya maju, kaki kirinya harus meninggalkan tanah bekas pijakannya dan
mengikuti langkah kaki kanan.”
Seseorang tidak akan pergi ke mana-mana jika kaki kanannya
melangkah maju, namun kaki kirinva menempel di tempat yang sama.”
“Seseorang juga tidak bisa maju ke masa depan jika hanya separuh
dirinya memulai kehidupan baru sementara separuh yang lain terus tinggal dalam
satu kehidupan sudah lama berlalu."
”Seseorang seharusnya tidak hidup pada hari kemarin, tidak juga
pada hari esok. Satu-satunya kenyataan adalah hari ini dan momen saat ini.
Berikan perhatian penuh Anda kepadanya, dan masa lalu akan lenyap, serta masa
depan akan tiba pada saatnya untuk menjadi masa kini."[1]
Pustaka:
[1] Y. Ching, “Bab Sepuluh,” in Master
Chen Yen: Teladan Cinta Kasih, Handaka Vijjananda, Ed. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2009, pp. 166–171.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar